Hubungan Antara Metode Sejarah dengan Hidup dan Ilmu
Setiap orang menuliskan sejarahnya sendiri, mereka menuliskan banyak dokumen sejarah potensiil, seperti latihan sekolah, laporan pajak, surat pribadi, surat dinas, dll. Jika satu diantara hl tersebut jatuh ketangan sejarawan yang memiliki minat pada dirinya, tempat dimana ia tinggal, masa ketika ia hidup atau kegiatan yang pernah dilakukannya, dapat dijadikan sebagai suatu sumber pengetahuan, betapapun sedikit dan tidak dapat dipercaya. Misalnya orang-orang yang telah membuang rekening tua yang menyangkut rumah tangga atau perusahaan dalam jaman Mesir Purbakala ribuan tahun yang lalu, sepertinya tidak memikirkan sejarawan jaman sekarang. Namun dari beberapa carik kertas tua mereka (papyrus) sarjana-sarjan sekarang mengetahui banyak mengenai rumah tangga, lembaga-lembaga, cara-cara usaha, harga-harga, dan hidup sehari-hari dari suatu jaman yang telah lampau, yang tanpa kertas-kertas itu akan tetap tidak diketahui.
Setiap orang bukan saja merupakan seorang sejarawan yang harus menyusun sejarahnya sendiri untuk pengertiannya sendiri (meskipun hsl itu dilakukan hanya di dalam pikirannya saja), tetapi ia juga memiliki kans untuk termasuk diantara mereka yang catatan-catatannya akan menarik minat sejarawan dari masa ratusan atau ribuan tahun yang akan datang dan dengan demikian akan memperoleh keabadian yang mungkin tidak akan diperoleh oleh orang-orang sejamannya yang lebih terkemuka.
Menulis sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok, yaitu:
- pengumpulan obyek yang berasal dari jaman itu dan pengumpulan bahan-bahan tercetak, tertulis, dan lisan yang boleh jadi releven;
- menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak otentik;
- menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik;
- penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi sesuatu kisah atau penyajian yang berarti.
Keempat langkah tersebut yang biasa kita sebut dengan heuristik atau pengumpulan data (nomor 1); kritik atau verifikasi (nomor 2); interpretasi atau penafsiran (nomor 3); dan historiografi atau penulisan sejarah (nomor 4).
Sifat dari "Metode Sejarah" yaitu:
- Konstan : apakah sejarah itu dianggap sebagai suatu bentuk sastra, suatu cabang daripada ilmu humaniora, suatu ilmu bantu bagi ilmu sosial dan suatu metode untuk lebih mengerti semua seni atau ilmu. Apakah diantaranya, kesemuanya atau tak satupun diantara klasifikasi tersebut benar atau tidak, tidaklah mempengaruhi cara kerja sejarawan untuk menganalisa kesaksian yang ada sebagai bukti yang dapat dipercaya mengenai masa lampau manusia. Namun kita akan melihat bahwa jenis bukti yang dicarinya dan cara ia merangkai-rangkaikannya ada pengaruhnya. Prosedur analitis inilah yang disebut dengan "metode sejarah".
- Universal : kata Charles Seignobos: "Sejarah bukanlah suatu ilmu, melainkan suatu metode (procede de connaissance) yang dimaksudkannya ialah bahwa metode sejarah dapat ditrapan kepada pokok pembahasan disiplin manapun sebagai sarana untuk memastikan fakta. Bahkan di dalam disiplin ilmu -ilmu alam, si penyelidik dengan jalan memastikan apa yang dilakukan oleh orang lain pada masa lampau, kadang-kadang dapat menyoroti eksperimen-eksperimen yang dapat diulangi, jika ada harapan sukses dan diubah jika telah menemui kegagalan; sedangkan bagi disiplin ilmu-ilmu lainnya seperti teologi, bisnis, filsafat, sastra, dan ilmu sosial., pengetahuan mengenai asal-usul, preseden, pengalaman sebelumnya, situasi sejarah, analogi dengan masa lampau dan situasi-situasi yang kontras, jela mempunyai nilainya. Kritikus Jerman Gotthold Ephraim Lessing menyatakan: " Tanpa sejarah........ setiap jam kita akan diancam bahaya diperdayakan oleh pembual-pembual bodoh, yang tidak jarang memuji sebagai penemuan baru apa yang telah diketahui dan diyakini oleh manusia beribu-ribu tahun yang lalu. Dengan sejarah kita masih dapat diperdayakan, tapi kita memperoleh kesempatan untuk belajar dari contoh masa lampau. Sejarah merupakan pengalaman yang direkam daripada umat manusia dan orang dapat memperoleh manfaat dari pengalaman dalam setiap bidang pengetahuan. Metode sejarah mempunyai makna yang khusus bagi sejarawan, sejarawan dapat mentrapkan metode sejarah kepada bukti yang diwariskan dari masalampau dan daripadanya mengumpulkan data yang dapat dipercaya sebanyak-banyaknya. Data itu dapat dipergunakan oleh filsuf, sarjana ilmu politik, sarjana sosiologi, kritikus sastra,dsb, untuk menyusun suatu sejarah pemikiran, sejarah lembaga-lembaga poitik, kebiasaan-kebiasaan sosial, atau sastra. Data itu juga dipergunakan oleh sejarawan untuk menyusun deskripsi daripada tokoh dan tempat masa lampau, kisah mengenai peristiwa lampau, penyajian gagasan-gagasan lampau atau sintesa daripada periode dan budaya yang telah lampau.
Sejarah berhubungan dengan humaniora maupun ilmu-ilmu sosial. Rekonstruksi itu harus dibangun sesuai dengan aturan-aturan tertentu, jika aturan-aturan itu ditrapkan sejarawan tidak hanya akan bertindak secara ilmiah dalam menggunakan metode untuk menyimpulkan data elementer melainkan juga dapat mengusahakan pemakaian prosedur ilmiah dalam usaha menhimpun data.
Sejarah dapat memiliki sifat ilmu-ilmu sosial, tetapi sejarah juga menaruh minat kepada masa lampau demi masa lampau itu sendiri beserta individu manusia.
Sejarawan sebagai ilmu sosial dan sejarawan sebagai ilmiawan humaniora, tidak pmenjadi dua orang yang terpisah, mereka dengan mudah bisa menjadi satu. Dan manfaat dari pada yang satu itu kepadayang lain (baik humaniora ataupun ilmu-ilmu sosial) akan sangat bertambah jika ia tidak bertindak schizophrenis.
Hubungan antara humaniora dan ilmu-ilmu sosial. Pokok pembahasan yang semestinya daripada kedua bidang itu adalah manusia sebagai makhluk budaya, makhluk intektuil, dan makhluk sosial. Kedua bidang ingin menemukan generalisasi-generalisasi, meskipun ilmiawan sosial biasanya lebih berminat kepada ramalan dan pengendalian, dibandingkan dengan ilmiawan humaniora, yang biasanya lebih berminat kepada contoh yang baik, terlebih lagi yang luar biasa, dibandingkan dengan ilmiawan sosial. Kedua bidang berminat kepada masa lampau, masa kini, dan masa depan, (meskipun ilmiawan humaniora cenderung untuk menitik beratkan diri kepada masa lampau sedangkan ilmiawan sosial lebih menitik beratkan diri kepada masa kini dan masa depan).
Sejarawan sebagai ilmiawan sosial. kesimpulan bahwa dua jenis sarjana itu terkadang lebih berbeda dalam hal titikberat dan waktu daripada dalam hal pokok pembahasan dan tujuan Sejarawan humaniora tidak perlu, tetapi dapat menjadi ilmiawan sosial bagi masa lampau. Ia tidak perlu menjadi ilmiawan sosial bagi masa lampau, karena cukup terdapat minat kepada masa lampau demi masa lampau itu sendiri, banyak tuntutan akan pemeliharaan warisan budaya, yakni pengalaman, pikiran, adat-istiadat, sopan-santun, agama, lembaga, dll daripada masa lampau, untuk membenarkan sikap ilmiawan humaniora yang ingin mencurahkan dirinya kepada contoh unik, masa-masa yang jauh, atau garis perkembangan khusus. Tetapi ia dapat menghubungkan contoh, wilayah, jaman, dan garis perkembangan itu kepada konsep-konsep dan generalisasi sosial yang lebih luas.
Tiga cara untuk mempelajari percapaian manusia. Metode kritis analitis, historis-substantif, dan sosial-budaya, dalam hal itu terlalu dibuat-buat dan hanya dapat dibenarkan karena keharusan adanya spesialisasi dan pembagian waktu yang efisien untuk tujuan studi. Pertempuran-pertempuran Napoleon dapat dipelajari sebagai suatu ungkapan dan suatu sebab bagi budaya Eropa dalam abad ke-19 atau sebagai episode-episode dalam sejarah khusus perang atau dengan kritis-analitis mengenai strategi dan taktik bagi masing-masing pertempurannya.
Minat sejarawan kepada tiga cara. Karena setiap individu mungkin menuliskan sejarahnya sendiri, ia dapat melaitu dengan menempuh jalan yang merupakan kombinasi antara ketiga pendekatan yang dilakukan di atasa, yakni yang bersifat budaya total atau sosiologis, yang spesialisasi dan analitis. Misalnya saja jika ia seorang mahasiswa, ia mungkin menganggap dirinya sebagai hasil daripada semua faktor yang telah mempengaruhi perkembangan masyarakat dan budayanya, atau ia mungkin menempatkan dirinya si dalam sejarah khusus pendidikan, atau ia mungkin mencoba menilai karya dan personalitasnya secara kritis dan analitis.
Sumber: Gottaschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI-Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar